Featured

Menjelajah Waktu ke Ladang Pembantaian Killing Field di Kamboja

Traveling itu nggak harus kunjungi destinasi yang bagus dan cantik doang, sesekali datang juga ke tempat yang menyimpan sejarah ngeri peradaban manusia, kayak Killing Field di Kamboja.

Lokasi Killing Field ini jauh dari pusat kota Phnom Penh, tepatnya di Desa Cheung Ek. Sekitar 15-17 km atau butuh waktu 40 menit berkendara dengan tuk-tuk.

Pertama kali menginjakkan kaki di Killing Field, aku nggak nyangka kalau taman luas yang dipenuhi pepohonan rindang ini dulunya adalah ladang pembantaian.

Dari kejauhan, ‘taman pembantaian’ ini tak begitu menarik perhatian. Biasa saja. Satu-satunya hal yang mencuri pandanganku hanyalah monumen tinggi berwarna putih abu-abu beratap emas yang ada di tengah taman. Fotonya ada di bawah ini;

killing field di kamboja
Monumen putih abu-abu dengan atap emas Killing Field di Kamboja

 

Penasaran dengan apa yang disuguhkan taman wisata ini, aku pun berjalan mendekat ke loket penjualan tiket. Enam dollar-ku melayang untuk sebuah taman yang tampak membosankan. Sebagai gantinya, petugas penjaga loket memberiku headphone lengkap dengan audio tour ini.

killing field di kamboja
Seperti ini wujud audio tour-nya taman pembantaian Killing Field di Kamboja

 

Dari kotak kecil ini, seorang pencerita membimbingku jalan-jalan mengelilingi taman pembantaian menggunakan bahasa sesuai pilihan. Sayangnya, mereka belum menyediakan storyteller dalam bahasa Indonesia. Alih-alih pakai Bahasa Melayu, aku lebih nyaman dengan Bahasa Inggris.

Suara ramah seorang pria menggema dalam headphone-ku. Ia mengawali perjalanan dengan menjelaskan aturan-aturan selama di Kiling Field, Kamboja. Dalam waktu kurang lebih 30 menit, pria yang ada di headphone ini jadi local guide-ku.

Pria ini menuntunku kemana aku harus melangkah, kapan harus pindah saluran, dan kapan harus berhenti untuk mendengarkan dia menceritakan kisah pembantaian yang pernah terjadi di taman yang aku injak ini. Sesekali aku memutar ulang bagian yang ku anggap sulit dipahami.

Tak sulit untuk mengikuti instruksinya, karena di sana pun sudah terpasang penanda di setiap titiknya.

“Tepat di hadapan Anda adalah pohon di mana ana-anak tak berdosa dilempar hingga tewas.” kata pria dalam headphone itu

killing field di kamboja
Pohon pembantaian anak-anak yang ditangkap rezim Pol Pot

 

Ya Tuhan, kisah tragis ini teramat menyedihkan. Anak kecil tak bersalah dan tak tahu menahu pun menjadi sasaran?

Perjalanan di taman yang tampak membosankan ini menjadi sangat emosional ketika sang pelaku dan juga saksi mata kejadian kala itu memberikan pengakuan. Makin ngeri lagi saat mendengarkan iringan instrumental musik berjudul “A Memory from the darkness”.

Sejenak aku berhenti di sebuah kubangan berbentuk persegi panjang yang dikelilingi pagar bambu dengan atap kayu. Gelang warna-warni disematkan pada bambu setinggi sepinggulku. Menurut info yang aku dapat, gelang itu  berasal dari para turis yang merasa prihatin.

killing field di kamboja
Kuburan masal bagi korban pembantaian, Killing Field di Kamboja

Suara di dalam headphone-ku bercerita bahwa kubangan dihadapanku ini adalah kuburan masal bagi korban-korban yang telah dibantai anggota Khmer Merah. Sebagian besar korban mereka adalah warga negara terpelajar seperti guru, pengacara, dokter. Pakaian yang dikenakan para korban hingga remah-remah tulang pun masih bisa ditemukan di sana.

killing field di kamboja
Mereka menyebutnya dengan Magic Tree, tempat menggantungkan audio speaker pengecoh suara

 

Pohon besar yang disebut Magic Tree pada foto di atas ini menjadi saksi biksu kekejaman begundal Pol Pot. Mereka menggantungkan pengeras suara lalu memutar musik begitu kerasnya supaya tak satu pun mendengar jerit tangis dan teriakan para korbannya.

Aku tahu, kisah kejam saling bunuh dampak dari pergolakan politik suatu negara bukan hanya terjadi di Kamboja. Di Indonesia pun ada, di Yugoslavia pun juga. Namun, baru kali ini aku melihat langsung lokasi pembantaian ditemani pencerita lokal lengkap dengan sisa tengkorak, dan barang-barang peninggalan korban yang dikenakan saat itu.

Perasaan sedih bercampur marah makin pecah saat memasuki monumen utama yang aku lihat dari kejauhan di pintu depan tadi. Aku tak lagi sanggup menahan duka saat memasuki ruang di monumen yang terlihat dari kejauhan tadi. Etalase kaca menjulang tinggi memajang ratusan tengkorak kepala. Tak hanya aku, semua turis nampak larut dalam duka.

killing field di kamboja
Tengkorak para korban pembunuhan yang dipajang di museum Killing Field di Kamboja

 

Setiap tengkorak dipisahkan sesuai dengan tanda pembeda. Ada korban yang dibunuh menggunakan senjata tajam, ada pula korban yang dibunuh menggunakan cangkul.

Senjata yang digunakan untuk membantai lebih dari 8000 lebih pria, wanita, dan anak-anak Kamboja pun terpajang di sana. Berkarat dan masih nampak bekas lumuran darah yang sudah kering.

Tak ketinggalan, pakaian-pakaian yang dikenakan korban semasa dianiaya pun dipamerkan. Setumpuk pakaian kumal, lusuh, namun syarat akan tangis kepedihan disimpan rapat dalam lemari kaca.

Sejarah Killing Field di Kamboja

Nah, sekarang aku mau cerita sejarah Killing Field di Kamboja. Jadi, di balik ribuan korban tak bersalah yang dibunuh dengan kejinya itu ada seorang pemimpin Khmer Merah yang nernama Saloth Sar atau dikenal dengan sebutan Pol Pot.

killing field di kamboja
Pol Pot, pemimpin Khmer Merah. Foto dari medium.com

Pol Pot dikenal sebagai revolusioner Kamboja yang memimpin gerakan Komunis di Kamboja 1963 – 1981. Rezim Pol Pot saat itu ingin membentuk negara sosialis-agraris-sentris di mana warga kota akan dikirim ke desa buat bertani dan bercocok tanam.

Mereka membunuh kaum bijak dan terpelajar. Para dokter, guru, pengacara, tentara, pegawai pemerintah, dan golongan terdidik lainnya menjadi sasaran penjagalan. Ironisnya, Pol Pot adalah orang terpelajar yang pernah menimba ilmu di Prancis yang kemudian berprofesi menjadi seorang guru di Phnom Penh.

Selama menjadi guru Prancis, Pol Pot pun tergabung dalam gerakan Marxisme Kamboja atau dikenal dengan kaum kiri. Pemberontakan kaum kiri terhadap pemerintah Raja Kamboja saat itu disebabkan karena banyaknya pejabat korup.

Pemberontakan Khmer Merah makin beringas setelah kaum sayap kanan dianggap menampakkan sikap pro-AS. Khmer Merah pun berusaha melakukan revolusi untuk mendirikan Tahun Nol di Kamboja. Dan benar saja, mereka sukses menguasai Phnom Penh.

Masalah nggak cuma sampai di situ saja, Vietnam Utara yang tahu perubahan peta kepemimpinan mengirimkan bantuan kepada Khmer Merah untuk menggulingkan pemerintahan pada Mei 1970.

Nah, pada Oktober 1970, Pol Pot mengeluarkan resolusi anti Vietnam. Dia ingin menguasai pemerintahan sendiri tanpa campur tangan Vietnam Utara.

Akibat pergolakan yang rumit itu, warga Kamboja yang dianggap melawan konsep negara sosialis-agraris Pol Pot dibunuh. Lebih dari 8000 orang dari tawanan ditutup mata dan diikat tangannya lalu dibawa ke ladang pembantaian yang kini dikenal dengan nama Killing Field. Mereka tak dibunuh menggunakan senapan, tapi dibantai dengan keji, dibanting tubuhnya hingga mati, digorok kepalanya, dibacok tubuhnya menggunakan senjata tajam.

Kenapa tak dibunuh dengan senapan? Karena Khmer Merah tak mau membuang peluru dengan percuma. Yap, ini adalah scene lain dari sejarah Killing Field di Kamboja.

Semua korban dimakamkan di ladang beserta pakaian yang dikenakan pada 1980. Ya, dikubur ala kadarnya. Fragmen tulang manusia, tengkorak, dan potongan kain berserakan di sekitar kubangan makam.

Lantas pada 1988, pemerintah mengumpulkan lebih dari 8000 tengkorak yang disusun sesuai dengan jenis kelamin. Dan untuk mengenang kepergian para korban, setiap tanggal 9 Mei dilakukan upacara memorial di sana.

Di luar sejarah Killing Field di Kamboja, mereka anak muda Khmer yang dianggap tangguh akan dilatih oleh tentara Khmer Merah untuk memerangi siapapun yang melawan pergerakan Pol Pot.

Sejarah revolusi nol Pol Pot ini sangat panjang. Harus baca lebih banyak. Tapi, buat kalian yang tertarik dengan kisah sejarah Khmer Merah dan males baca, coba deh nonton film bikinan Angelina Jolie yang berjudul “First The Killed My Father”.

Filmnya Angie ini menarik. Ia menggambarkan kisah kekejaman Khmer Merah dari sudut pandang seorang anak kecil bernama Loung Ung yang bisa bertahan hidup. Dan, kisah tersebut memang benar nyata.

Sumber:

news.bbc.co.uk dalam artikel berjudul Pol Pot Remembered
Diary from Darkness by Yin Savvanary  

Advertisements

Si Pemilik Tulisan “Saya Malu Disebut Pendaki”

Di suatu sore, di pojok ruang kerja, aku dan beberapa orang teman kerja ngobrol soal naik gunung. Dua tahun lalu, kegiatan pendakian tengah digandrungi banyak kalangan. Aku pun jadi bagian dari tren itu.

Ngobrolin soal pendakian tak melulu memamerkan pengalaman hebat naik gunung atau gunung mana saja yang sudah didaki. Sebaliknya, masing-masing dari kami malah mencurahkan kegelisahan perihal dunia pendakian masa kini yang tak seperti dulu lagi. Bukan tak mau menerima perubahan, tapi kami hanya rindu naik gunung pada masa itu.

Kegelisahan tersebut akhirnya memunculkan ide tulisan, “saya malu disebut pendaki”. Masih ingat betul, tulisan itu merupakan awal mula aku kerja di dunia tulis menulis. Sebelumnya, bahkan aku tak pernah percaya diri dengan karya tulisku.

Tulisan “saya malu disebut pendaki” pertama kali diterbitkan di media tempatku bekerja. Nggak nyangka, banyak orang yang merasakan hal sama. Pun artikel ini ramai jadi bahan diskusi akun-akun pendaki gunung di sosial media. Sayangnya, mereka hanya membagikan saja, tanpa mencantumkan media yang menerbitkan apalagi nama si penulisnya.

Sebagai bagian dari dokumentasi karya, aku memublikasikan kembali tulisan “saya malu disebut pendaki” di blog pribadi. Ya.. siapa tahu ada yang tiba-tiba mengakui.

pendaki gunung
Fotoku waktu di Oro Oro Ombo. Mukeee nggak kekinian sama sekali. Foto oleh Echigo

 

Saya Malu Disebut Pendaki

Mungkin pandangan saya tentang gunung sudah kuno. Mungkin saya masih tetap hidup di masa lalu.

Memanggul ransel di punggung, sepatu lusuh, kemeja flannel, dan ikat kepala ethnic terlihat matching dengan rambut sedikit acak-acakan. Keren dan mengagumkan. Gaya seorang pendaki, selalu bisa membuat hati berdebar. Iya, itulah perasaan yang selalu muncul ketika bertemu pendaki. Mereka keren! Sepertinya, saya sudah jatuh hati pada para pendaki gunung.

Dari mata turun ke hati, saya begitu mengagumi pendaki

Di mata saya, mereka para sesepuh gunung, begitu saya memanggil mereka, memiliki kharisma tersendiri. Orang paling keren waktu itu, Vino G. Bastian, masih kalah keren dari pendaki. Dengan ransel segede kulkas dan sepatu boot, mereka begitu mudah menjadi idola remaja saat itu. Yang namanya fans, pasti selalu ingin tahu tentang idolanya.

“Mas, udah mendaki gunung mana saja?”

Itu salah satu pertanyaan klasik yang selalu saya, si pemula ini, lontarkan. Sekadar ingin tahu, sudah sejauh mana mereka menapakan kaki. Ingin belajar dan memperoleh inspirasi.

Yang namanya fans, selalu ingin terlihat keren seperti idolanya

Saya selalu kepo dengan semua barang keren yang mereka miliki. Lihat saja ransel Deuternya, jaket Mamoot, sepatu boot Salewa, tenda ultralight, belum lagi gear-gear canggih lainnya. Terus terang, saya selalu membayangkan mengenakan dan melengkapi gears gunung seperti mereka. Pasti saya juga bisa keren. Apalagi, waktu itu belum banyak yang tahu apa itu Deuter, apa itu Salewa.

Saya pun menabung mengumpulkan uang hasil kerja paruh waktu untuk membeli alat-alat gunung yang harganya bisa 4 kali lipat dari gaji memberi les privat per bulan. Ini gaji saya yang terlalu kecil atau gearsnya yang terlampau mahal? Mungkin keduanya.

Karena gears sudah cukup lengkap, saya siap mendaki

Deuter Spider biru, sepatu boot Hi-tech, jaket Lafuma, dan ikat kepala oleh-oleh teman dari Ende. Itu semua barang yang selalu saya kenakan tiap mendaki. Sudah terlihat hampir sama seperti idola saya. Sepertinya saya sudah cukup keren untuk penampilan seorang pendaki gunung. Ah, percuma saja keren tapi tak pernah menginjakkan kaki di Gunung Slamet, apalagi belum ke Semeru, pikir saya.

Masa muda yang menggebu, buku catatan saya penuh dengan bucketlist pendakian. Ingin mendaki seluruh gunung di Jawa Tengah, Jawa Barat, Kerinci, dan Rinjani. Impian saya, si pemula, saat itu.

Saya menjadi sering mendaki untuk mencentang bucketlist pendakian. Sebulan bisa 3 kali mendaki. Paling lama, dua bulan sekali. Lebih dari itu, saya bisa sakau. Seperti tak mempunyai gairah hidup.

Jangan Panggil Saya Pendaki

Ada kebanggaan tersendiri karena sering mendaki. Dalam hati saya bangga sudah pernah memeluk puncak-puncak gunung di Jawa Tengah. Kenapa tak Semeru? Karena terus terang dua kali ke sana, saya tak pernah mampu menggapai Mahameru. Saya iri dengan kalian yang berhasil berjumpa dengan’ dia’. Tapi, saya tak berkecil hati. Karena bagi saya puncak itu bukan titik tertinggi gunung yang kita daki. Tapi, titik maksimal di mana kita sanggup menapakan kaki di sana.

Sebangga-bangganya saya dengan gunung, saya tak pernah bangga disebut pendaki. Bukan karena pendaki tak keren, tapi apa sih saya ini? Pengetahuan pendakian saya pas-pasan, tak pernah ikut organisasi pencinta alam, belajar mendaki pun otodidak. Saya hanya orang yang jatuh hati pada gunung dan pendaki-pendaki keren yang saya temui selama di perjalanan. Saya hanya penikmat gunung yang menikmati setiap lekuk lukisan alam Tuhan yang begitu indah. Saya hanya penikmat wangi tanah gunung yang basah terkena hujan.

saya malu disebut pendaki
Fokus pada Quote yang aku tulis hehehee..

Saya Malu Disebut Pendaki

Entahlah, rasa kagum saya pada para pendaki gunung menguap bersama maraknya pendakian. Pendaki berkharisma yang sering saya temukan di setiap tanjakan entah di mana rimbanya. Saya yakin mereka masih ada, namun tak nampak nyata.

Saya merasa kehilangan sosok idola yang dulu saya puja-puja. Semua pendaki kini terlihat sama. Keril besar, sepatu boot, buff, joger pants, action cam. Secara penampilan fisik pendaki yang sekarang masih sama. Namun, saya harus minta maaf, karena dalam pandangan saya, pendaki yang saya temui tak ada lagi yang spesial. Tak lagi membuat hati ini berdegup kencang kagum memandang.

Meskipun saya kehilangan sosok idola, bukan berarti saya juga kehilangan rasa untuk tetap menikmati gunung. Saya masih suka menikmati sunrise dari balik pintu tenda. Menghirup segarnya udara gunung pagi hari. Saya tak pernah kehilangan rasa semangat memasak aneka menu di gunung. Dan kenikmatan menyeruput segelas kopi panas di gunung selalu sama. Hangat.

Gunung, kopi, teman pendakian, dan hal-hal yang tercipta selalu membawa kehangatan. Seperti hangatnya rasa saat di rumah. Iya, karena gunung adalah rumah bagi setiap orang, bagi semua pendaki.

Because, a mountain is home for everyone. It’s not only mine or theirs, but it’s ours

Apakah kalian juga masih memiliki rasa yang sama? Rasa hangat saat di gunung? Beruntunglah kalian, karena sekarang rasa itu perlahan mulai memudar. ‘Rumah’ saya perlahan mulai hilang.

Saya kehilangan hangatnya sapaan pendaki yang dulu saya temui di sepanjang jalan. Tak lagi ada obrolan hangat dengan pendaki di tenda sebelah.

Terlalu banyak yang mendaki. Terlalu banyak pendaki gunung yang sibuk berfoto selfie daripada berinteraksi santun dengan pendaki gunung lain. Yang kadang membuat kesal, ada orang yang tak tahu aturan. Foto selfie di depan tenda tanpa permisi. Memutar musik pagi buta terlampau keras. Tak lagi bertegur sapa.

Sudahlah, mungkin pandangan saya tentang gunung sudah kuno. Mungkin saya masih tetap hidup di masa lalu.

Sosok pendaki idola sudah tak lagi saya temui. Kehangatan rumah di gunung pun sudah tak saya dapati. Kini, saya pun sudah tak lagi mendaki. Karena itu, saya malu jika disebut pendaki.

 

Gulai Bustaman Pak Sabar Kota Lama Semarang dan Kisah di Balik Kelegendarisannya

Jalan-jalan ke Kota Lama Semarang paling nikmat kalau mampir makan siang di warung gulai kambing Bustaman Pak Sabar. Selain rasa gulainya yang enak, warung Pak Sabar ini paling terkenal di Semarang. Yah, mumpung lagi di Semarang, kenapa nggak sekalian?

Kalau buat aku yang tinggal di Semarang, makan siang di warung Pak Sabar ini sudah seperti panggilan alam. Rasanya itu lho, bikin ketagihan.

gulai kambing bustaman pak sabar -- helloechi 1.jpg

Pak Sabar mulai berjualan gulai kambing sejak tahun 1969 di sekitar Kota Lama. Awalnya dia berjualan dengan cara dipikul dan berkeliling kawasan Kota Lama. Kini, Pak Sabar mulai menetap di sepetak warung sederhana di kawasan Gereja Blenduk.

Warung gulai Pak Sabar ini gampang banget dicari. Kamu hanya perlu berjalan kaki sekitar 50 meter ke arah belakang Gereja Blenduk. Warung Pak Sabar ini tepat berada di ujung pertigaan jalan. Orang menyebutnya jalan tusuk sate.

Awalnya, aku agak heran dengan sajian gulai bustaman ini. Di kota asalku, Pati, gulai dimasak menggunakan santan sehingga hasilkan kuah kuning, pekat dan kental. Sedangkan kuah gulai bustaman diolah tanpa santan, tapi ditambahkan minyak serundeng kelapa sehingga memunculkan warna kecokelatan.

Nah, pastikan kamu datang sebelum jam 3 sore, takutnya kehabisan. Pak Sabar membuka warungnya dari jam 8 sampai jam 3 sore. Paling ramai sekitar jam makan siang.

Warungnya nggak luas, kira-kira cukup menampung sekitar 20 orang. Pertama kali masuk ke dalam warung, angkringan kayu dengan kuali di dalamnya menjadi sorotan pertama. Klasik.

Di sini, kamu bakal melihat potongan daging kambing berukuran besar tertata rapi dalam wadah dekat kuali tempat kuah. Saat disajikan, Pak Sabar baru memotong daging tersebut menjadi bagian yang lebih kecil.

Oiya, di warung gulai bustaman Pak Sabar ini ada dua pilihan isian, yaitu berisi daging atau campur (red: biasanya berisi jeroan dll). Kamu bisa memilih level kepedasan sesuka hati. Mau pedas, sedang, atau nggak pedas sama sekali.

Nah, uniknya, sebelum disajikan, Pak Sabar nguleg cabai mentah sesuai permintaan di piring. Setelah itu, barulah ditambahkan potongan daging kambing dan siram kuah gulai berwarna kuning kecokelatan.

gulai kambing bustaman pak sabar -- helloechi 2.jpg

Pas disajikan di atas meja, kamu bisa menambahkan perasan jeruk nipis, juga irisan bawang merah, dan kecap. Kalau aku sih, semakin banyak irisan bawang merahnya makin sedap.

Soal rasa, buatku sih ini emang paling enak di Semarang. Irisan dagingnya empuk. Kuahnya ringan dan gurih. Nggak bau “prengus” kambing. Sebelumnya, aku juga udah nyoba gulai kambing bustaman di tempat yang berbeda. Dan, Pak Sabar paling jago soal rasa.

gulai kambing bustaman pak sabar

Sayangnya, nasinya sedikit. Udah gitu agak keras. Nah, kalau yang terakhir ini mungkin pas kebetulan aja kali ya.

Satu porsi gulai bustaman dan sepiring nasi putih dihargai Rp30.000. Sedangkan es tehnya Rp2.000.

Sejarah gulai bustaman

Dulu aku pikir, bustaman ini adalah nama pemilik warung yang sudah template dipakai banyak penjual gulai. Kayak misalnya warung Soto Semarang “Pak No”, warung mie ayam pak No atau Nasi Padang Citra Bundo yang ada di mana-mana. Ya. Semacam itu.

Ternyata, Bustaman ini adalah nama sebuah desa di Semarang, tepatnya di sekitar Jl. Mataram. Nama Bustaman ini diambil dari seorang Kiai yang bernama Ketoboso Bustam. Kalau kata orang, Kiai Bustam ini kakaknya pelukis terkemuka Raden Saleh. Nah, di zaman penjajahan Belanda, buat mempermudah penyebutan, maka dikenal lah dengan nama Kampung Bustaman.

Dulu, mayoritas warga Bustaman bekerja sebagai seorang penjagal kambing, sapi, atau pun kuda. Transaksi jual beli dan pengolahan daging kambing pun ramaikan kampung ini.

Salah satu olahan daging kambing hasil kreasi warga adalah gulai yang dipadukan dengan berbagai rempah seperti kapulaga, kunir, jahe, dan juga merica.

Ide penambahan rempah-rempah ini tak lepas dari pengaruh kuliner Arab.

Adanya akulturasi rasa Arab-Jawa dalam semangkuk gulai ini pun sebenarnya bukan hal yang aneh mengingat Semarang merupakan kota percampuran banyak bangsa yaitu Arab, Tiongkok, Jawa, dan Belanda.

Kalkulasi Biaya Jalan-jalan ke Kamboja dari Semarang

Setiap kali cerita pengalaman jalan-jalan ke Angkor Wat, Kamboja, banyak pertanyaan “berapa biaya jalan-jalan ke Kamboja?”. Mumpung lagi selo banget nih, aku bikin rincian biaya perjalanannya. Kamu bisa nyontek atau menyesuaikan gaya perjalananmu sendiri.

solo backpacking ke kamboja7

Selama total 7 hari perjalanan, aku nggak cuma eksplor Kamboja, tapi sehari singgah di Kuala Lumpur Malaysia juga. Rute yang aku ambil Semarang-Jakarta-Kuala Lumpur-Phom Penh-Sien Reap-Kuala Lumpur-Semarang.

Perjalanan kali ini lebih hemat karena nggak banyak jajan atau beli oleh-oleh. Selain itu, aku juga cukup beruntung karena bertemu orang baik yang nganterin aku dari terminal penurunan bus Phnom Penh ke hostel, gratis.

Berikut rincian biaya jalan-jalan ke Kamboja dari Semarang.

Semarang – Phnom Penh

Tiket pesawat Jakarta – Phnom Penh = Rp556.000 (promo)
Phnom – Penh – Kuala Lumpur = Rp650.000 (normal price)
Kuala Lumpur – Semarang = Rp626.500
Kereta Semarang – Jakarta = Rp96.000
Bus Damri – CGK = Rp40.000

Phnom Penh dan Siem Reap

Bandara Phnom Penh – Killing Field – Gian Ibis Pool = 14USD / Rp189.000 (Dollar: Rp13.500)
Bus Giant Ibis Phnom Penh – Siem Reap = 16 USD/ Rp216.000
Tuk-tuk transfer pool – hostel – Angkor Wat 1 day tour = Rp297.000 / 22USD
Moto dop hostel – Angkor Wat (hari kedua) = Rp67.500 / 5USD
Moto dop hostel – kantor pos PP = Rp27.000 / 2USD
Rental sepeda hostel = Rp27.000 / 2USD
Bus Siem Reap – Phnom Penh (non AC) = Rp135.000 / 10USD
Moto dop dari hostel di Phnom Penh – Bandara = Rp81.000 / 7USD (normalnya 5 USD)

Kuala lumpur

KLIA 2 – KL Sentral PP = Rp72.000
Grab car Batu Cave – food court KL = Rp40.000 (bagi berdua)
KL Sentral – Batu Cave = Rp7.000 (2MYR)
Taman Wahyu – KL Sentral = Rp7.000 (2MYR)

Akomodasi penginapan

Satu malam di hostel Kokiche Rp67.500 / 5USD
Dua malam di One Stop Hostel Siem Reap= Rp203.248
Satu malam di One Stop Hostel Phnom Penh = Rp108.000

Makan

Hari pertama
Selama di Jakarta, makan ditanggung temen hehehe
Makan malam di KLIA2 (nasi lemak + cola) = Rp74.000

Hari kedua
Makan siang di jalan dari Phnom Penh – Siem Reap (soup ikan + es jeruk) = Rp47.500 / 3.5 USD
Makan malam nasi goreng mentega Rp13.500 / 1USD
Jus jeruk Rp13.500 / 1USD

Hari ketiga
Brunch di kaki lima (nasi capcay+es jeruk) Rp60.750 / 4.5USD
Jus buah naga Rp13.500 / 1USD
Sandwich + Cola = Rp108.000

Hari keempat
Air mineral Rp13.500
Mangga muda Rp13.500
Sarapan apel bawa dari rumah
Nom pajok Rp7.500 / 5 cent
Bbq skewer + es jeruk = Rp67.500 / 5USD

Hari kelima
Sarapan nasi batang teratai + es teh Rp40.500 / 3USD
Mangga muda Rp13.500 / 1 USD
Makan siang Rp27.000 / 2USD
Tarantula goreng + jangkrik Rp27.000 / 2USD
Makan malam Rp60.750 /4,5 USD

Hari keenam
Sarapan energen bawa dari rumah
Nasi lemak = Rp40.000
Burger = Rp36.000

Misc

Tiket masuk Angkor Wat Rp270.000 /20USD
Oleh-oleh Rp300.000
Sewa loker di KL Sentral 10MYR = Rp35.600
Sim card 3USD

Total Rp4.836.348

Note: Tarif bisa berubah sewaktu-waktu

Hai Perempuan, Jangan Solo Traveling Kalau Takut Diperkosa

Bukan menakut-nakuti, tapi bagi para perempuan, perkara pemerkosaan menjadi ancaman mengerikan saat lakoni perjalanan sendirian.

Kamu mungkin sudah dengar, kasus turis Prancis yang diperkosa oleh oknum tour guide di Labuan Bajo. Mengerikan ya!

Bahkan, pemerkosaan turis di Labuan Bajo bukan yang pertama, si pelaku dikabarkan juga memperkosa turis asal Italia.

Lalu, menarik beberapa bulan ke belakang, turis Denmark pun alami pelecehan seksual usai berselancar di Pantai Nyang-nyang, Mentawai.

Ya, kasus pemerkosaan turis bukan kisah fiksi dalam sebuah novel atau film petualangan. Siapapun bisa saja mengalami, termasuk aku.

Solo traveling bagi perempuan memang membahayakan. Aku pun diselimuti ketakutan berlebihan sebelum pergi seorang diri di negara yang entah.

jalan-jalan ke kamboja
Jalan-jalan ke Kamboja; naik tuk-tuk trus langsung selfie dong. Foto by me

Membayangkan jalan seorang diri di negara lain tanpa ada seorang pun yang dikenali membuat nyali menciut.

Bagaimana jika tiba-tiba ada seorang tak dikenal menyergap di tengah kegelapan saat menyusuri trotoar jalan yang sepi?

Bagaimana jika tiba-tiba driver tuk-tuk yang aku kendarai malah membawaku ke gubuk antah berantah kemudian berniat buat mengangkangi?

Bagaimana jika aku diculik lalu mereka menjual organ-organ dalam tubuh ini?

Saat ketakutan, akan selalu ada “bagaimana jika” lainnya bila kita tak tegas untuk berhenti memikirkan segala kemungkinan buruk yang ada.

Aku pun memilih buat menutup mata, mengabaikan semua kekhawatiran orang akan keselamatanku, dan memutuskan tidak menyaksikan film atau membaca berita kriminal.

Karena apa? Memikirkan segala keburukan makin meningkatkan rasa takut.

Bukan berarti lalai atau tak peduli dengan keselamatan di perjalanan. Diam-diam, aku sudah menyiapkan strategi dengan matang.

Mencatat semua nomor telepon rumah sakit terdekat. Menyimpan nomor polisi di kota yang aku kunjungi. Menghubungi kantor kedutaan Indonesia. Bahkan, aku sedikit pelajari gerakan taekwondo untuk bertahan diri.

Yang paling utama, belajar menahan diri buat tidak gampang percaya menerima bantuan dan ajakan orang lain di tengah jalan. Sejujurnya, inilah kelemahan utamaku.

Abaikan orang yang tampak baik menawarkan bantuan. Meski banyak yang bilang, jangan menilai orang dari fisik luarnya, harus ku akui, gesture dan cara penampilan orang yang ku temui di perjalanan terus aku amati lebih mendalam.

Sebaliknya, niat melakoni solo traveling terus aku pupuk dengan membaca kisah-kisah inspiratif para perempuan dunia saat kunjungi banyak negara sendiri.

Buku-buku karya Trinity telah banyak mendorong semangatkan. Kisah dan foto-foto perjalanan travel influencer Kadek Raini pun makin membulatkan tekadku. Lalu, ratusan tulisan pengalaman para perempuan saat solo traveling di blog pribadinya menjadi penyemangat utamaku.

Pikirku saat itu, “Mereka sama sepertiku. Perempuan dan suka jalan-jalan. Kenapa aku harus hentikan langkah kalau takut diperkosa? Bukankah selalu ada ancaman di manapun kita  berada? Tinggal bagaimana cara kita mengantisipasinya.

Aku dan Wajah Indochinaku

Beberapa waktu lalu, food vlogger Mark Wiens bikin video tentang hasil test DNA yang sudah dilakukannya via 23andme.com. Dari hasil yang didapat, ternyata si Mark Wiens ini 51,3% keturunan Asia Timur / Amerika dan 48,7% asli Eropa (Jerman+Prancis).

FYI, 23andme.com ini perusahaan pemberi jasa tes DNA berdasarkan standar data FDA (Food and Drug Administration). 

Aku sih nggak ikut-ikutan test DNA kayak si Mark Wiens karena biayanya yang cukup mahal dan kayaknya belum urgent juga. Hehehe…

Tapi, jadi kepikiran, sebenarnya, aku ini keturunan orang mana?

echi
Aku foto bareng mbak-mbak Thailand yang mau nikah.

Kalau dari bapak ibu, kakek nenek, eyang, cicit, dan seterusnya, aku ini 100% asli Jawa. Herannya, banyak orang yang salah sangka dengan wajahku ini.

Contohnya nih, waktu itu aku lagi salat di salah satu masjid di Phuket. Karena teman-teman sudah selesai dan menunggu di luar, tinggal aku sendirian yang ada di dalam masjid. Ibu-ibu di sebelahku, tiba-tiba ngajak aku ngobrol pakai bahasa Thailand.

Bingung, aku cuma bengong dong. Lalu aku bilang ke Ibu “I don’t speak Thai, English please..”. Nah, si ibu malah gantian yang bengong. Akhirnya, aku senyum ke Ibu dan nunjukkin gesture pergi ninggalin masjid.

Lalu, waktu aku lagi mampir di KL Tower Malaysia pun mengalami hal yang sama. Kala itu, aku bertiga dengan temanku. Di sana, kami bertemu ibu-ibu dari Purwodadi, Indonesia.

Seorang teman lagi ngobrol sama ibu-ibu itu, sedangkan aku sibuk motret sana-sini.

Si ibu itu pun bertanya, “Karo sopo nduk? Wong ndi kae? (sama siapa nak, orang mana itu?). Ngomong kayak gini sambil nunjuk dan senyum ke arahku.

Dan, singkat cerita, si ibu ini mengira bahwa aku adalah seorang kapiten  warga Jepang.

Nah, yang paling epik waktu aku lagi jalan-jalan di Kamboja. Sore itu, aku dan seorang teman asli Siem Reap naik motor menuju Angkor Wat. Waktu melewati pos pemeriksaan tiket, si petugas tanya sesuatu hal padaku pakai bahasa Khmer. Karena aku nggak paham, ya, diam doang dong.

Lalu, temanku gantian ngajak ngobrol si petugas. Nggak tahu deh ngobrol apa jelasnya. Tapi, kata dia, si petugas tadi itu nggak percaya kalau aku bukan orang Kamboja. Dikira warga lokal gitu. Hahaha

Bahkan, waktu pemeriksaan tiket akhir di depan pintu masuk Angkor Wat, si petugas malah nggak ngecek tiketku sama sekali. Dibiarin lewat begitu aja selayaknya warga lokal. Tahu gitu kan mending nggak usah beli tiket sama kayak warga lokal. Hehehe

Dan, dari pengalaman itu, kesimpulannya cuma satu bahwa sebenarnya, nenek moyangku orang pelaut.

Trik dan Cara Beli Tiket Masuk Angkor Wat

Aku beruntung banget, waktu jalan-jalan di Angkor Wat, harga tiket masuknya masih normal, belum mengalami kenaikan. Buat turis asing tiket masuk Angkor Wat dihargai sebesar 20 USD sedangkan warga lokal bebas biaya alias gratis.

Nah, per awal Februari 2017 lalu, harga tiket masuk Angkor Wat naik hampir 2 kali lipat yaitu 37 USD. Kalau dirupiahkan nilainya mencapai 521.700 Rupiah (1 USD = 14.100). Mahal sih, tapi sangat sesuai dengan apa yang bakal kamu temui di sana.

Buat kamu yang mau ke Angkor Wat, baca dulu ini nih tip dan trik beli tiket masuk Angkor Wat.

Pilih tiket masuk sesuai dengan kebutuhan

Gini, tiket masuk Angkor Wat itu ada 3 macam, 1 day pass, 3 days pass, dan 7 days pass.

Tiket masuk 1 day pass dihargai 37 USD, 3 days pass seharga 62 USD, dan 7 days pass dibandrol dengan harga 72 USD.

Nah, tiket 1 day pass ini bisa kamu gunakan seharian penuh buat kunjungi Angkor Wat, Angkor Thom, Bayon, dan lainnya. Cocok buat kamu yang nggak mau capek-capek muterin candi.

Kalau kamu suka banget sama hal-hal berbau sejarah dan arkeologi, mending beli tiket yag 3 days pass aja. Kamu bisa puas liat sunrise ke sunset dari berbagai spot.

Biasanya, mereka yang emang tergila-gila sama candi atau mungkin seorang sejarawan atau apapun itu, bakal milih 7 days pass ticket. Tiket ini berlaku 7 hari tapi bisa digunakan dalam jangka waktu satu bulan.

Cari waktu terbaik buat beli tiket 

Sayangnya, sampai sekarang tiket masuk Angkor Wat belum dijual secara online. Jadi, setiap turis harus ke loket langsung.

Loket penjualan tiket masuk Angkor Wat ini buka dari jam 5 pagi sampai jam 5.30 sore.

Rata-rata, turis beli tiket 1 day pass di waktu subuh biar bisa lihat sunrise di Angkor Wat. Tapi sayangnya, banyaknya orang yang beli tiket di waktu yang sama, bikin antrean mengular panjang.

Saranku nih, lebih baik beli tiket pas sore menjelang senja. Sekitar jam 5 gitu. Kenapa? Karena kalau beli tiket pada jam tersebut, kamu bisa lihat sunset dan sunrise Angkor Wat.

Mungkin kamu bertanya-tanya, “Lhah, kan kalau beli pagi subuh gitu bisa dapet sunrise dan sunset juga?”, biar lebih paham, gini nih simulasinya.

Pertama, kalau beli tiket waktu subuh, antrean bakal mengular panjang. Pas, sudah dapat tiket dan mau ke Angkor Wat, spot sunrise terbaik sudah dipenuhi turis. Terburuknya, ketinggalan sunrise dan nggak dapat spot terbaik.

tiket masuk angkor wat
Di depan kami ini kolam yang merefleksikan Angkor Wat. Jadi orang-orang pada berkumpul di sini. Rame banget kan?

Kedua, Angkor Wat itu luas banget. Lebih luas dari Candi Borobudur. Dan, di sana pun, kamu nggak cuma ngunjungi satu candi doang. Ada banyak candi-candi dengan lokasi yang lumayan jauh.

Nah, kalau memutuskan buat lihat sunrise di Angkor Wat, kemungkinan besar kamu nggak bakal dapet sunset viewnya karena saat sunset tiba,  mungkin kamu lagi di Bayon. Jadi, harus milih salah satu. Ya tapi, kalau kamu cuman mau eksplor Angkor Wat, ya nggak masalah sih. Bisa dapat sunrise dan sunset view.

Lalu, masa berlaku 1 day pass yang kamu beli di jam 5 sore, masih bisa digunakan sampai di hari berikutnya. Jadi, kalau beli tiket di jam 5 sore, kamu bisa dapat sunset sekaligus sunrise Angkor Wat tanpa harus antre lama dan bisa dapat spot terbaik.

Itu yang aku lakukan waktu ke Angkor Wat. Ketika yang lain pada jinjit-jinjit di belakang kerumunan turis, aku dapat tempat yang strategis di depan kolam Angkor Wat.

Sudah tahu kapan mau beli tiket masuk Angkor Wat? Sekarang waktunya dandan cantik

Yap, karena setiap turis wajib foto saat beli tiket. Setelahnya, foto bakal dicetak di tiket masuk. Mirip kayak bikin KTP gitu.

tiket masuk angkor wat
Abis sepedaan keliling Siem Reap eh langsung beli tiket masuk Angkor Wat, kan mukaku jadi nggak bisa dikondisikan ke mode cantik.

Lokasi loket penjualan tiket di mana? 

Aku juga kurang paham di mana tepatnya lokasi penjualan tiket. Waktu itu, aku hanya mengandalkan sopir tuk-tuk. Kamu bisa pakai gmap buat menuju lokasi.

Supaya nggak berdesak-desakkan sama turis lain, pilih rute yang melawan arus

Setelah kamu mengantongi tiket masuk Angkor Wat, sekarang pilih rute terbaik. Biasanya nih para turis atau pun agen travel akan memilih rute Angkor Wat – Bayon – Angkor Thom.

Kalau kamu ikut rute  yang sama, maka siap-siap berdesak-desakan karena mengunjungi candi bebarengan dengan turis dari berbagai negara. Baiknya, pilih rute Angkor Wat – Angkor Thom- Baru ke Bayon.

Solo Backpacking ke Siem Reap Kamboja Ngapain Aja?

Setiap orang yang jalan-jalan ke Siem Reap Kamboja, tujuannya pasti satu; “lihat Angkor Wat dari dekat”. Begitupun dengan aku. Meski di Indonesia banyak candi yang udah aku kunjungi, tapi tetep aja penasaran sama Angkor Wat, candi Hindhu terbesar di dunia yang kemarin baru aja dinobatkan sebagai “best landmark in the world” oleh TripAdvisor.

Tapi, kalau cuma muter-muter di Angkor Wat dan angkor (candi) lainnya bakal bosan juga. Akhirnya, aku coba bikin asyik sendiri dengan ngelakuin hal-hal ini;

1. Siang-siang sepedaan di Siem Reap 

solo backpacking ke kamboja4

Sejujurnya, bakal lebih asoy lagi kalau sepedaannya pagi-pagi buta. Udaranya pasti  bakal lebih seger. Tapi, gimana lagi, berhubung aku orangnya susah bangun pagi kalau pas lagi jalan (eh di rumah juga ding), akhirnya rencana sepedaan keliling Siem Reap baru bisa direalisasikan jam 9 pagi. Dan, jam 9 pagi di Siem Reap itu sama panasnya kayak di Semarang.

Aku sewa sepeda di hostel tempat aku nginep. Harga sewanya 2 USD, balikin jam 5 sore. Bisa dipakai ke mana aja. Aku juga dikasih peta sama penjaga hostelnya dan percuma aja sih, aku masih saja muterin jalan yang sama sampai 3 kali.

Kalau ditanya kenapa nggak sekalian keliling Angkor Wat pakai sepeda, jawabannya karena aku terlalu lemah buat mengelilingi areal candi seluas itu.

Akhirnya ya, cuma muter-muter Siem Reap doang dan kebetulan lagi ada water festival di sana. Lumayan buat cuci mata.

2. Nonton Water Festival di sepanjang sungai

Kebetulan banget, kedatanganku di Kamboja bertepatan dengan event nasional Kamboja, Water Festival. Yap, di setiap pertengahan November, seluruh orang Kamboja turun ke jalanan saling siram pakai air, mirip Songkran di Thailand.

Sayangnya, pas aku tiba di sana, acara “siram-siraman” air udah kelar. Hanya nyisain genangan air berwarna keruh dan festival dayung perahu hias yang ramai warga lokal.

Oiya, festival dayung perahu hias ini nggak cuma ada di Siem Reap, sehari sebelumnya, aku juga lihat festival yang sama di Sungai Mekong, Phnom Penh.

3. Jalan-jalan ke Psar Chaa

Psar Chaa, salah satu pasar tradisional di Siem Reap yang begitu populer di kalangan turis. Mau beli oleh-oleh apapun semua ada di sana.

Selain nyediain souvenir atau pun oleh-oleh, Psar Chaa pun sedia barang kebutuhan sehari-hari kayak sayur mayur, barang perkakas, dan makanan.

Pasarnya nggak luas kok. Gampang cari jalan keluarnya. Selama “ngubek-ngubek” pasar, aku beli kopi kamboja dan biji bunga teratai. Aku rasa cuma makanan itu yang unik dan nggak ada di Indonesia. Lainnya, bisa aku beli di pasar dekat rumah.

4. Duduk di taman dan “menyamar” sebagai warga lokal

Tepat di seberang Psar Chaa ada taman kota yang memanjang sepanjang aliran sungai. Lalu, ada jembatan kayu yang membentang membelah sungai.

Aku duduk di bangku di bawah pohon rindang sambil mengamati lalu lalang orang lewat yang antusias menyaksikan festival dayung perahu hias.

Persis di belakang punggungku ada dua bocah lokal yang lagi mainan engklek, kalau di daerahku namanya Suda Manda. Dua anak laki-laki itu umurnya 10 tahun, pakai jersey klub Manchester City.

Iseng, aku pun ikutan mainan engklek. Meski mereka nggak begitu lancar berbahasa Inggris, tapi itu bukan kendala buat seru-seruan bermain engklek bareng mereka.

5. Keliling Angkor Wat dari sunrise sampai sunset

solo backpacking ke kamboja2

Sebenernya males banget bangun jam 3 pagi. Padahal itu kan, jam-jam rawan biar bisa mimpi ketemu Adam Levine. Tapi, bangun pagi pun begitu worth it sama apa yang aku dapat.

Jam 3 pagi, Sam si driver tuk-tuk udah jemput aku di depan hostel. Sepagi itu, ternyata bukan cuma aku dan Sam doang yang melintasi jalanan lengang Siem Reap. Banyak bule yang bersepeda dan nggak sedikit yang duduk di atas tuk-tuk kayak aku ini.

Dan benar saja, meskipun sudah bangun pagi, di areal parkir Angkor Wat penuh dengan deretan tuk-tuk, mayoritas turis asing. Gilak, bener-bener ramai banget.

Bahkan pas masuk di area sunrise point pun, sudah berjubel turis-turis di depan kolam. Genangan kolam yang benang ciptain refleksi Angkor Wat. Epik!

solo backpacking ke kamboja7

Beruntungnya punya badan kurus kayak aku ini. Saat yang lain pada jinjit buat mengintip si matahari terbit di balik Angkor, aku dengan enaknya berdiri di barisan paling depan.

Cerita lain tentang Angkor Wat bakal aku share di artikel terpisah. Soalnya, panjang banget.

6. Belagak seperti “anak malam” di Pub Street

solo backpacking ke kamboja3

Nah, Pub Street ini spot dunia malam Siem Reap. Kalau kamu suka dengerin musik kenceng, sambil ngobrol atau joget-joget ringan, di sini tempatnya.

Tapi, di sini pun ada restoran yang bisa kamu kunjungi buat makan malam. So far, aku nggak nemu warung nasi padang atau pun restoran Indonesia. Rata-rata jual western food, kuliner kamboja, kuliner Meksiko malah ada.

Selain restoran, deretan ruko-ruko pun dihiasi dengan pakaian kaus warna-warni dengan gambar gajah atau tulisan Siem Reap.

Oiya, ada juga pennjual street food yang menjajakkan kuliner ekstrem Kamboja seperti tarantula, jangkrik, ulet, dan lainnya. Niat dari rumah pengen coba, tapi serem.

7. Main ke kantor pos lokal buat ngirim surat cinta ke Indonesia

Beberapa waktu lalu aku punya hobi baru, kirim kartu pos dari daerah yang aku kunjungi. Kebetulan, mumpung lagi di Kamboja, aku kirim kartu pos buat diriku sendiri. Hahahakk.. Itung-itung sebagai doa.

Aku pun kirim beberapa kartu pos buat temen-temen. Sayangnya, entah alamatnya yang salah atau entah, ada satu kartu pos yang gagal sampai tujuan.

8. Wisata kuliner, icip-icip menu lokal harga 1 dollar

solo backpacking ke kamboja8

Rata-rata, restoran di Siem Reap ngasih harga 2-3 USD buat satu porsi menu makanan. Itu pun udah murah. Kalau kamu makan di tempat makan yang agak prestige gitu, harganya bisa 3 kali lipat per menu.

Nah, beruntungnya aku,  ada warga lokal yang ngajak makan di pinggir jalan. Menu makananya nggak mainstream, bener-bener kuliner lokal. Namanya ‘Nom Pajok’, satu mangkuk mie yang berasal dari tepung beras dengan kuah kental kuning dan isian sayur mayur yang nggak biasa. Bayangin ya, kamu lagi makan mie rebus kuah opor dengan isian batang teratai, mentimun, pepaya muda, daun-daunan, kacang panjang. Rasanya? Beyond expectation, enak!

***

Note: Gais, sorry.. dokumentasi selama di Kamboja ada yang ilang. Soalnya, MMC-nya ilang. Jadi cuma beberapa foto yang terselamatkan..

 

 

Trik Jalan-jalan ke Kamboja dari Semarang

jalan-jalan ke kamboja

Sebelum aku berangkat jalan-jalan ke Kamboja, ada temen di instagram yang nyinyir,

“Ngapain ke Kamboja? Di sana kotor, nggak worth it buat dikunjungi”

Untungnya, aku termasuk salah satu dari ribuan orang yang menjunjung tinggi prinsip “Jangan percaya kata orang sebelum datang membuktikan“. And, I proved it that she was definitely wrong. Hahahhaahak..

Kali ini aku nggak cerita dulu tentang moment seru waktu backpacking di sana. Tapi, mau ngasih essential tips buat kamu yang mau jalan-jalan ke Kamboja.

jalan-jalan ke kamboja

Jalan-jalan ke Kamboja; naik tuk-tuk trus langsung selfie dong. Foto by me

Kamboja memang bukan destinasi impian yang harus banget aku kunjungi. Tapi, jalan-jalan ke luar negeri sendirian adalah impian yang udah nggak bisa ditunda lagi.

Lalu, kenapa Kamboja? Aku pikir di sana lebih aman, nyatanya sih enggak juga.

Sebenarnya, jalan-jalan ke Kamboja itu paling seru itu kalau ambil rute Kamboja bablas Vietnam. Aku juga pengennya begitu, tapi karena jatah libur yang nggak banyak dan dapet tiket murahnya dari JKT – KL – Phnom Penh, akhirnya ya udah Kamboja dulu. Vietnamnya, next time aja.

Perjalanan menuju Kamboja begitu panjang, mengingat aku tinggal di Semarang, jadi aku harus sampai dulu di Jakarta.

Semarang – Jakarta – CGK

Ini adalah perjalananku seorang diri untuk pertama kali. Penuh drama, sampai hampir saja aku membatalkannya. Next, bakal aku share gimana dramanya mau jalan-jalan ke Kamboja sendirian.

Dari Semarang ke Jakarta, aku memilih menggunakan kereta. Biaya lebih murah, dan waktu tempuh pun tak begitu lama. Kurang lebih 6 jam perjalanan.

Tiba di Jakarta sekitar pukul 11 siang. Padahal penerbanganku jam 8.30 malam, akhirnya di waktu senggang itu aku pakai buat cari money changer.

Setelah semua urusan perduitan kelar, aku istirahat sebentar di rumah teman di daerah Casablanca. Tiduran, nge-charge hape, dan checking akhir.

Sorenya, sekitar pukul 05.30, aku bergegas menuju bandara naik DAMRI lewat terminal Rawamangun. Bayarnya cuma Rp40.000. Sangat terjangkau jika dibandingkan harus naik taksi.

CGK – KLIA2

Semua ketakutan sebelum terbang akhirnya sirna setelah pesawat AirAsia mendarat cantik di bandara KLIA 2. Jam tanganku menunjukkan pukul 23.30 waktu Malaysia. Aku pun bergegas.

Aku sendirian, menggendong ransel orange 45 liter dengan wajah sedikit kebingungan. Berjalan seorang diri menuju area lounge KLIA2, nyari spot nyaman buat bermalam.

Ada dua cewek berjalan sambil bawa koper dan mengenakan pakaian musim dingin di depanku. Aku pikir dia juga bakal bermalam di KLIA2, kan lumayan ada temannya. Ternyata, dia langsung lanjutkan perjalanan ke Seoul.

Meskipun kamu sendirian dan baru pertama kali ke KLIA2, rasanya nggak bakal nyasar. Mengingat bandara ini cukup mudah buat ditelusuri, nggak kayak bandara sebelahnya, Changi.

Sudah malam, aku harus makan dan cari tempat tidur. Kata blog yang aku baca, spot terbaik buat tidur di KLIA2 ada di level 2. Di sana ada banyak food court. Enaknya lagi, kursi-kursi sofa empuk yang ada di sana bisa dipakai buat tidur. Nah, ini yang aku cari!

Kata orang, sofa di depan Burger King nih yang paling nyaman ditidurin. Tapi, nyatanya sofa yang ada di sana sempit. Cuma bisa buat tidur atau selonjoran. (Yailah, kalau mau yang nyaman mah mending nginep di hotel)

Akhirnya, aku memilih makan di salah satu outlet makanan khas Malaysia. Kenapa milih di sana? Karena sofanya lebar, lebih lega buat tiduran.

Satu porsi nasi lemak dan segelas cola jadi pilihan. Harganya, 16 MYR buat nasi lemaknya dan 5MYR buat cola. Rasanya? Not bad lah. Kalau cola-nya? Berasa seperti cola.

KLIA2 – PHNOM PENH

Pagi pukul 04.45, aku udah bangun. Cari toilet buat cuci muka dan mushola buat sholat subuh. Ini tumben banget, sepagi itu aku udah bangun. Berasa jadi muslimah yang haqiqi nih.

Eh, ternyata, sholat subuh di Malaysia itu lebih siang. Jam 05.30 gitu baru mulai Subuh. Tapi aku yakin, gusti Allah pasti paham banget kalau hambanya ini cuma lupa beda waktu di Indonesia dan Malaysia.

Sejujurnya, abis sholat aku pengen banget mandi, tapi waktu ke shower room KLIA2, ternyata lagi nggak bisa dipakai. Yaudahlah, pakai rexona doang, cuci muka, dan gosok gigi pun udah mewakili.

Pesawatku dari KLIA ke bandara Phnom Penh berangkat pukul 07.00. Pagi itu, langit Kuala Lumpur sedikit mendung.

PHNOM PENH – SIEM REAP

jalan-jalan ke kamboja

Jalan-jalan ke Kamboja; dapet tiket bus langsung cekrek. Foto by me

Jalan-jalan ke Kamboja itu bikin deg-deg-ser. Apalagi pas tiba di bandara Internasional Phnom Penh disambut dengan puluhan driver tuk-tuk nungguin di depan bandara. Udah gitu, ramai orang yang mau jemput teman atau pun keluarganya pula.

Bingung, akhirnya aku memutuskan buat duduk dulu di area food court sambil buka itinerary mau ke mana setelah ini.

Oiya, waktu kamu tiba di bandara Phnom Penh, di depan pintu keluar ada counter yang jual sim card sekaligus paket internet. Kamu bisa beli di sana.

Ada banyak brand yang bisa dipilih. Aku beli metfone dengan kuota 3 GB buat 5 hari harganya 3USD. Rata-rata harganya memang segitu.

jalan-jalan ke kamboja

Jalan-jalan ke Kamboja; motret sim card sekaligus duit kembaliannya buat dokumentasi aja sih. Foto by me

Nah, abis ngurusin masalah sim card, sekarang cari tuk-tuk buat nganter ke pool GIANT IBIS, bis yang bakal nganterin aku dari Phnom Penh ke Siem Reap. Ada banyak driver tuk-tuk, saranku coba jalan keluar dari bandara dulu. Bisa lebih hemat 2-3 dollar. Kan lumayan.

Tarif dari bandara sampai ke pool Giant Ibis rata-rata 7-8 USD.

Selain bus Giant Ibis, ada beberapa opsi bus lain yang bisa kamu pilih buat nganter ke Siem Reap. Banyak yang merekomendasikan buat naik Mekong Express, tapi aku milih Giant IBIS.

Sama-sama menempuh 6 jam perjalanan, tapi berdasarkan review yang aku baca, Giant Ibis lebih nyaman. Kalau Mekong Express ngasih tarif 13 USD, Giant Ibis sedikit lebih mahal. Dengan 16 USD (termasuk biaya administrasi pembayaran kartu kredit 1 USD), Kamu bakal dapet snack (roti dan air mineral), colokan deket kursi, AC yang dingin, dan 2 kali berhenti buat istirahat.

Bus Giant Ibis ini punya banyak jadwal keberangkatan. Dari jam 08:45 AM sampe 10.30 PM. Kalau mau intip jadwal lebih lengkap, coba aja kunjungi situsnya di link ini. Nah, kalau link situs Mekong Express, bisa klik di sini.

Phnom Penh – Siem Reap

jalan-jalan ke kamboja

Jalan-jalan ke Kamboja; naik bus Giant Ibis biar lebih nyaman tidurnya.

Enam jam perjalanan dari Phnom Penh ke Siem Riep itu nggak kerasa lama kok. Apalagi jalanan menuju Siem Reap itu nggak banyak belokan. Malahan nih lurus terus.

Pastikan juga, pas Kamu mau otewe ke Siem Reap, udah booking driver tuk-tuk di sana. Biar ada yang jemput.

Perjalanan panjang dari Kuala Lumpur – Phnom Penh – Siem Reap bakal bikin jetlag. Apalagi kalau sampai di Siem Reap pas malem-malem gitu, buta arah sudah pasti dah.

jalan-jalan ke kamboja

Jalan-jalan ke Kamboja; lebih nyaman kalau rental private tuk-tuk. Bisa selonjoran kaki kayak gini.

Kebetulan, aku juga udah booking dari Indonesia. Sebenarnya, aku booking lewat instagramnya dia (sorry lupa namanya). Tapi, karena jadwal doi padat, akhirnya di-oper ke temennya. Namanya, Sam, kamu bisa hubungi dia di (0929) 05352. Orangnya baik kok.

Sam nggak cuma jemput, tapi dia juga jadi driver pribadi selama keliling Angkor Wat-Angkor Thomb- Bayon. Dari jam 3 pagi sampe malem jam 7. Waktu itu, doi minta bayaran 25 USD. Tapi, aku tawar, jadinya aku cuma bayar 22 USD.

***

Note:

Selain Giant Ibis dan Mekong Express, ada banyak bus dari Phnom Penh ke Siem Reap dan sebaliknya dengan harga yang lebih miring, sekitar 10 USD. Tapi, fasilitas yang dikasih nggak sebagus Giant Ibis. Salah satu yang aku coba juga, namanya Surya Bus. Murah sih, tapi AC bocor, panas, dioper ke bus lain, dan memakan waktu lebih lama.

Belajar Toleran dari Dugderan Semarang

Sekian tahun tinggal di Semarang, baru kemarin aku datang langsung melihat serangkaian acara dugderan. Dulu, aku pikir dugderan hanyalah sepetak pasar malam yang dilengkapi dengan beragam sajian kuliner, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Ternyata, aku salah.

dugderan-semarang.jpg

Awal mulanya, dugderan ini merupakan tradisi penyambutan bulan ramadhan. Saat itu, alim ulama saling bersilaturahmi membahas kedatangan ramadhan. Lalu, mereka menyebarkan berita datangnya bulan puasa dengan bunyi-bunyian yang berasal dari bedug (Dug) dan mercon (Duer).

Seiring berjalannya waktu, tradisi Dugderan nggak hanya sebagai penanda namun telah menjadi festival tahunan. Semua warga Semarang berkumpul jadi satu menampilkan kesenian budaya, lalu memamerkannya dalam acara kirab budaya.

Selama dua hari mengikuti acara Dugderan Semarang kemarin, ada hal yang begitu mencolok. Pertunjukkan seni yang ditampilkan begitu banyak ragamnya.

Pikirku, penyelenggaraan kirab budaya akan didominasi dengan pertunjukkan khas Jawa Tengah yang identik dengan blankon dan atribut suku Jawa lainnya. Namun, aku salah. Banyak kesenian daerah yang harusnya nggak ada di Semarang tapi tampil memukau di tengah-tengah peserta  lainnya. Misalnya pertunjukkan barongsai, Reog Ponorogo, bahkan ada juga penampilan seni berunsur betawi dalam gelaran kirab budaya.

Oh, baru aku tahu. Ragam kesenian yang ditampilkan menjadi suatu simbol bahwa Semarang adalah kota yang paling toleran untuk ditinggali. Masyarakat dengan ragam budaya, agama, dan kepercayaan yang berbeda tetap hidup berdampingan tanpa pergolakan meski belakangan kasus agama lagi memanas.

Warna-warni budaya dalam pagelaran dugderan ini menjadi simbol akulturasi budaya. Di mana budaya lokal membaur dengan budaya lain yang datang di Semarang seperti budaya Tiongkok, Arab, dan sedikit tradisi peninggalan Belanda.

Saling menghormati, menghargai, dan toleran dengan bangsa lain adalah kunci keharmonisan masyarakat Semarang. Di tengah panasnya isu agama dan toleransi kebangsaan seperti sekarang, penyelenggaraan festival seperti yang dilakukan kota Semarang menjadi solusi.

Aku pribadi, lebih memilih memosting kegiatan positif yang mengandung unsur budaya ketimbang harus bikin status sok paham politik dan agama.

 

PS: dibikin awal puasa, tapi baru dikelarin sekarang.